Melihat ini, Lynx mengambil batu besar dan melemparkannya ke arah mereka, mengusir mereka sepenuhnya. Akhirnya, kawanan itu melarikan diri, meninggalkan Lynx dan Leena dengan napas terengah-engah.

“Kau baik-baik saja?” tanya Lynx sambil menghampiri Leena dengan khawatir.

Leena mengangguk, meskipun wajahnya masih pucat karena ketakutan. “Ya… Kau datang tepat waktu.”

Lynx menghela napas, menurunkan tongkatnya. “Aku minta maaf, Leena. Aku tidak seharusnya meninggalkanmu sendirian. Aku terlalu memaksa kita untuk terus berjalan tanpa mempertimbangkan apa yang kau rasakan.”

Leena menunduk, merasa bersalah. “Tidak, aku yang salah. Aku tahu kau hanya ingin kita selamat, tapi aku terlalu keras kepala. Aku seharusnya mendukungmu, bukan malah membuat semuanya lebih sulit.”

Mereka terdiam sejenak, hanya suara angin yang terdengar di antara mereka. Akhirnya, Lynx menepuk pundak Leena dengan lembut.

“Kita harus selalu bersama, Leena. Hanya itu cara kita bisa bertahan di tempat berbahaya ini.”

Leena mengangguk, matanya mulai basah oleh air mata. “Aku mengerti, Lynx. Mulai sekarang, aku akan berusaha lebih baik.”

Setelah kawanan monyet berhasil diusir, Lynx memandang Leena yang berdiri dengan tubuh gemetar. Napasnya masih berat, tapi ada sesuatu yang berbeda. Mata Lynx dengan cepat menangkap darah dari paha Leena mengalir kebawah. Ia segera mendekat, memegang bahu Leena dengan khawatir.

"Leena, kau berdarah!" serunya, panik.

Leena tertegun, lalu cepat-cepat menutupi kakinya dengan tangan, wajahnya memerah karena malu. "Ini… bukan apa-apa," gumamnya pelan, menghindari tatapan Lynx.

"Tidak mungkin bukan apa-apa! Kau terluka? Kapan ini terjadi?" Lynx berlutut, mencoba memeriksa lebih dekat, tapi Leena mundur selangkah, memeluk dirinya sendiri.

"Ini bukan karena perkelahian tadi," katanya akhirnya, suaranya lirih. Ia menunduk, menghindari tatapan Lynx. "Aku… sedang menstruasi."

Lynx terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. Lynx mengernyit, tampak bingung. Meski ia tahu ini adalah hal alami, ia belum pernah menghadapinya langsung. "Aku... tidak paham ini sepenuhnya, tapi kita harus mengatasinya bersama."

Leena menghela napas, merasa malu harus mengatakannya. "Aku merasa perutku sakit sejak pagi. Itu tanda-tanda yang biasa terjadi sebelum… ini. Aku takut kalau darahnya mulai terlihat. Itu sebabnya aku ingin sendirian."

Lynx menatapnya dengan raut khawatir. "Kenapa kau tidak bilang? Kita bisa mencari cara untuk membantumu."

Leena menggigit bibirnya, merasa tidak nyaman. "Aku tidak tahu bagaimana. Celana kulit yang kita pakai ini tidak bisa menahan darahnya, dan kita tidak punya apa-apa untuk menggantinya. Aku pikir aku bisa mengatasinya sendiri, tapi..." Ia terhenti, menunduk. "Aku hanya tidak ingin merepotkanmu."

Lynx menggelengkan kepala. "Leena, ini bukan tentang merepotkan. Kau sedang menghadapi sesuatu yang tidak bisa kau abaikan begitu saja. Kita harus mencari solusi bersama."

Setelah memastikan bahwa tidak ada lagi ancaman di sekitar, Lynx mengajak Leena duduk di dekat api unggun kecil yang ia buat untuk menghangatkan mereka. Ia berpikir keras, mencoba mencari solusi.

"Aku ingat sesuatu," kata Lynx tiba-tiba. Ia berdiri dan mulai mencari sesuatu di tas anyaman mereka. Lynx mengeluarkan celana kain miliknya yang dibuatkan Leena dari kulit Macan. "Kita bisa menggunakan kain ini untuk mengatasinya? Kita bisa menggunakannya untuk sementara."

Leena mengangguk pelan, meskipun masih merasa canggung. "Tapi... bagaimana caranya? Kain itu tidak akan bertahan lama."

Lynx berpikir sejenak, lalu pandangannya tertuju pada daun besar yang ada disekitarnya. Setelah memeriksanya sejenak untuk memastikan, Lynx berkata, "kita bisa melapisi kain dengan daun lebar. Daun itu cukup tebal dan tidak mudah sobek. Aku akan mencoba membuatnya seperti bantalan."

Lynx segera bekerja, mengambil kain bersih dari tas mereka dan beberapa daun lebar. Ia melipat kain itu, melapisi bagian dalamnya dengan daun, lalu mengikatnya menjadi bentuk sederhana yang bisa digunakan Leena. "Ini mungkin tidak sempurna, tapi setidaknya bisa menahan darah untuk sementara."

Leena menerima kain itu dengan ragu, wajahnya masih memerah. "Kau yakin ini akan berhasil?"

"Kita tidak punya pilihan lain sekarang," jawab Lynx sambil tersenyum tipis. "Kalau ini tidak nyaman, kita akan cari solusi lain. Yang penting, kau merasa lebih baik dulu."

Setelah menggunakan kain yang dibuat Lynx, Leena merasa sedikit lebih nyaman. Meski masih canggung, ia bersyukur bahwa Lynx tidak mempermasalahkan keadaannya.

"Terima kasih," katanya pelan.

Lynx menatapnya, raut wajahnya lembut. "Leena, kau tidak perlu malu. Kita berada dalam situasi di mana kita harus saling membantu. Apa pun yang terjadi, aku ada disini."

Leena tersenyum kecil, meskipun matanya berkaca-kaca. "Aku benar-benar beruntung memilikimu disini, Lynx. Kalau aku sendirian, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."

Setelah memastikan Leena merasa lebih baik dengan solusi sementara, Lynx dan Leena memutuskan untuk beristirahat sejenak di tempat itu. Api unggun yang kecil memberi mereka kehangatan, sementara suara hutan yang tenang membuat suasana sedikit damai meskipun mereka tahu bahaya bisa datang kapan saja.

Lynx kemudian memeriksa tanaman disekitar dan memetik beberapa daun yang ia tahu berkhasiat sebagai pereda nyeri, lalu meremasnya hingga mengeluarkan sari. "Minumlah ini. Aku tidak tahu apakah rasanya enak, tapi ini bisa membantu."

Leena menerimanya dengan senyum kecil. "Aku sangat bersyukur, ternyata sangat banyak manfaat yang kamu dapatkan dari mempelajari tanaman-tanaman ini sebelumnya."

Leena meminum ramuan itu, lalu meringkuk di dekat api. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia merasa lebih ringan. Lynx berjaga di sampingnya, memastikan bahwa tidak ada lagi ancaman yang akan mendekati mereka.

Dalam hatinya, Lynx bersumpah untuk lebih peka terhadap kebutuhan Leena. “Kita harus mempersiapkan semuanya sebelum melanjutkan perjalanan,” kata Lynx sambil memeriksa tas anyaman mereka. “Selain perbekalan, aku ingin memastikan kamu tetap merasa nyaman selama ini berlangsung.”

Leena mengangguk. “Aku setuju. Tapi bagaimana kita bisa melakukannya di tempat seperti ini?”

“Kita cari bahan yang lebih baik. Aku ingat pernah melihat tanaman yang seratnya kuat di dekat sungai saat kita melewati hutan beberapa hari lalu. Kita bisa mencoba mencarinya,” kata Lynx sambil berdiri dan mengambil tombaknya.

Pagi itu, mereka berdua bergerak menyusuri hutan dengan hati-hati, mendekati area sungai yang disebutkan Lynx. Leena tetap membawa tongkatnya, sementara Lynx mengawasi sekitar dengan waspada. Setelah beberapa saat, mereka menemukan tanaman dengan serat panjang yang menyerupai rami.

“Ini dia!” seru Lynx sambil menarik beberapa serat dari tanaman itu. Lynx memandang serat itu dan mengangguk puas. 'Ini bisa kita pakai untuk sementara,' katanya sambil memeriksa kekuatannya. "Aku pikir ini bisa menggantikan kain pembalut untuk kamu gunakan.”

Leena membantu memotong lebih banyak serat . “Kita perlu membuat cukup banyak. Aku tidak tahu berapa lama ini akan berlangsung, jadi sebaiknya kita punya cadangan.”

Mereka membawa serat itu ke tempat aman dan mulai mengolahnya. Lynx memintal serat itu menjadi lembaran kecil yang lebih tebal, sementara Leena membantunya mengeringkan bahan itu dengan cara menggantungnya di dekat api.

“Ini akan memakan waktu,” kata Lynx sambil mengamati hasil kerja mereka. “Tapi setidaknya kita punya awal yang baik.”

Sore itu, Lynx mulai bekerja memperbaiki celana Leena. Ia mengambil sisa kulit binatang dari perjalanan mereka sebelumnya dan memotongnya menjadi potongan kecil. Dengan jarum tulang yang ia buat sendiri dan benang dari serat pohon, ia menjahit lapisan tambahan di bagian dalam celana Leena.

“Ini tidak akan terlihat bagus,” kata Lynx sambil menjahit dengan cermat, “tapi fungsinya lebih penting daripada tampilannya.”

Leena memperhatikan. “Kamu benar-benar tahu banyak hal, Lynx. Aku tidak tahu kamu bisa menjahit seperti ini. Kenapa tidak dari awal kamu menjahitkan pakaian untuk kita” kata Leena dengan sedikit kesal.

Lynx tertawa kecil. “Saat hidup di tempat liar seperti ini, mau tidak mau harus belajar segala sesuatu. Kalau tidak, kita tidak akan bertahan lama. Aku juga mulai bisa melakukan ini karena pengalaman-pengalaman yang kita alami.”

Setelah selesai, celana Leena memiliki kantong tambahan di bagian dalam yang bisa diisi dengan serat daun yang mereka buat. Ini memungkinkan Leena mengganti serat dengan mudah selama perjalanan tanpa perlu khawatir bocor.

Pada hari berikutnya, mereka mengisi kembali persediaan air. Lynx memimpin Leena ke arah sungai terdekat, membawa beberapa tabung bambu yang sudah kosong.

“Kita tidak tahu kapan kita akan menemukan sumber air lagi,” kata Lynx sambil mengisi tabung-tabung itu. “Aku yakin kamu kamu akan membutuhkan lebih banyak air untuk membersihkan diri.”

Leena dengan malu mengucapkan terima kasih kepada Lynx dan bersyukur atas perhatian yang diberikannya.

Leena mencuci tangan dan membersihkan dirinya di sungai. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia merasa sedikit lebih segar. Lynx menjaga jarak sambil berjaga-jaga dari kemungkinan bahaya.

“Kalau kita bisa menemukan lebih banyak bambu, kita bisa membawa lebih banyak air,” ujar Lynx setelah selesai.

“Terlalu banyak bambu malah menyulitkan kita membawanya, Lynx. Terlalu banyak bahaya disini,” jawab Leena dengan khawatir.

Lynx menganggukan kepala,"kamu benar Leena, kita harus waspada terutama dengan makhluk-makhluk aneh yang menyerang kita sebelumnya.

Setelah semua persiapan selesai, Leena merasa jauh lebih nyaman. Serat daun yang mereka buat cukup kuat dan bisa diganti dengan mudah, sementara celananya kini lebih praktis.

Sebelum melanjutkan perjalanan, Lynx memastikan semuanya siap. “Kita masih harus mencapai gua di hutan barat. Perjalanan kita sudah cukup jauh, aku rasa tidak akan jauh lagi. Tapi kali ini, kita tidak perlu terburu-buru. Kita akan istirahat kapanpun kau butuh.”

Leena tersenyum dan mengangguk. “Aku siap. Dan terima kasih, Lynx. Tanpa kau, aku tidak tahu bagaimana menghadapi ini.”

“Kita tim, Leena. Kita akan bertahan bersama.”

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan melewati hutan yang penuh tantangan.

Malam itu, mereka memutuskan untuk beristirahat lebih lama. Lynx menyalakan api unggun, sementara Leena duduk di sampingnya, meminum air dari bambu yang mereka bawa.

Keesokan paginya, Leena terbangun dengan tubuh yang sedikit lebih segar. Lynx sudah bangun lebih dulu, sedang memperbaiki ujung tongkatnya yang sempat tumpul.

"Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Lynx tanpa menoleh, suaranya tetap hangat.

"Lebih baik," jawab Leena sambil meregangkan tubuhnya. "Terima kasih untuk kemarin. Aku merasa... lebih kuat sekarang."

Lynx tersenyum tipis. "Bagus. Karena perjalanan kita belum selesai. Tapi kali ini, kita akan berjalan sesuai kemampuanmu. Tidak ada lagi terburu-buru, oke?"

Leena mengangguk. lalu mereka melangkah kembali ke dalam hutan, bertekad untuk menghadapi apa pun yang menanti mereka di depan.

Langkah Lynx dan Leena terhenti saat mereka tiba di tepi sebuah sungai besar. Alirannya deras, penuh dengan batu-batu besar yang mencuat di permukaan air. Sungai ini tampak seperti dinding penghalang bagi perjalanan mereka.

“Bagaimana kita bisa melewati ini?” tanya Leena sambil memandang aliran sungai yang bergemuruh.

Lynx menyipitkan matanya, memeriksa keadaan. Ia memperhatikan arus yang kuat dan batu-batu besar yang bisa menjadi tempat berpijak, tetapi resikonya terlalu besar. “Kita butuh cara yang lebih aman. Menyeberang begitu saja bukan pilihan.”

Ia memutar otak, lalu menoleh ke arah hutan di sekitar mereka. “Kita bisa mencoba mencari batang pohon yang cocok untuk membuat jembatan sementara. Ada banyak pohon rebah sekitar kita.”

Leena mengangguk, meskipun raut wajahnya menunjukkan sedikit keraguan. “Kalau itu satu-satunya cara, aku akan membantumu mencari pohon yang cukup besar.”

Mereka berdua mulai mencari pohon kecil yang bisa dibawa . Setelah beberapa waktu, mereka menemukan sebuah pohon yang cukup panjang dan tidak terlalu berat.

“Kita bisa menggunakan ini,” kata Lynx.

Leena membantu mengangkat pohon tersebut sambil menahan cabang-cabang pohon agar tidak menghalangi proses mereka memindahkan. Setelah beberapa menit kerja keras, pohon itu akhirnya bisa mereka pindahkan ke dekat sungai.

"Bagaimana cara kita memasangkan pohon ini sekarang untuk menyebrang?" Tanya Leena sambil memandangi sungai.

"Kita akan mendirikannya terlebih dahulu lalu menjatuhkannya ke arah seberang sungai, nanti kita akan memanfaatkan tali ini agar mudah menariknya." Jawab Lynx.

Dengan hati-hati, Lynx memanjat pohon disekitarnya untuk memasangkan tali. Lynx ingin menggunakannya sebagai katrol agar lebih mudah menariknya. Setelah mengikat pada batang pohon yang akan ditarik, Lynx meminta Leena untuk menarik tali tersebut, sementara Lynx mendorongnya agar berdiri tegak.

Setelah berdiri tegak, Lynx meminta Leena melepaskan tali yang dipegangnya dan menyuruh untuk menghindar.

"Hati-hati Leena, carilah tempat aman! aku akan menjatuhkan pohon ini sekarang." Kata Lynx

Lynx mendorong batang pohon itu hingga ujungnya jatuh ke seberang mencapai sisi lain sungai, menciptakan jembatan darurat yang agak goyah di atas arus deras.

“Baiklah,” kata Lynx sambil menepuk batang pohon. “Aku akan menyeberang lebih dulu untuk memastikan ini cukup kuat.”

Leena mengangguk, menatapnya dengan cemas. “Hati-hati, Lynx.”

Lynx melangkah di atas batang pohon dengan perlahan, menjaga keseimbangan dengan tongkatnya. Arus di bawahnya bergemuruh, menghempas batu-batu besar dengan kekuatan yang mengerikan. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, ia berhasil mencapai sisi seberang dengan selamat.

“Jembatannya cukup kuat! Sekarang giliranmu, Leena!” teriaknya dari seberang.

Leena menelan ludah, menguatkan hati sebelum melangkah. Ia bergerak dengan hati-hati, kedua tangannya terentang untuk menjaga keseimbangan. Namun, saat ia mencapai tengah jembatan, batang pohon itu mulai bergoyang karena arus yang semakin kuat.

“Lynx!” serunya panik saat tubuhnya hampir terlempar ke sungai.

“Peganganmu kuat! Jangan takut!” balas Lynx sambil mendekat ke ujung batang pohon.

Namun, Leena kehilangan keseimbangan dan tergelincir. Tubuhnya hampir jatuh ke air, tetapi Lynx dengan cepat menangkap tangannya. Ia menarik Leena dengan seluruh tenaganya, membuat keduanya terjatuh ke tanah basah di sisi seberang.

Leena terengah-engah, matanya basah oleh air mata. “Aku hampir jatuh… Aku pikir aku tidak akan selamat…”

Lynx memeluknya erat, mencoba menenangkan. “Kau selamat. Itu yang terpenting. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh.”

Setelah beberapa saat untuk menenangkan diri, mereka melanjutkan perjalanan menyusuri tepi sungai. Tidak lama kemudian, suara gemuruh besar terdengar, lebih kuat dari aliran sungai.

“Apa itu?” tanya Leena.

Lynx mengangkat tangannya, meminta Leena berhenti. “Terdengar seperti air terjun. Mari kita lihat.”

Mereka terus bergerak hingga tiba di sebuah air terjun besar yang mengalir dari tebing tinggi ke kolam jernih di bawahnya. Air terjun itu memancarkan percikan yang menciptakan pelangi samar di bawah sinar matahari sore.

“Kita bisa beristirahat di sini,” kata Lynx sambil menatap keindahan tempat itu.

Leena mengangguk setuju. “Tempat ini terasa lebih aman. Setidaknya untuk sekarang.”

Mereka mulai menyiapkan tempat untuk beristirahat di sekitar kolam kecil di bawah air terjun. Lynx mencari ikan di kolam itu menggunakan tongkat runcingnya, sementara Leena membersihkan luka-luka kecil di tangannya.

“Aku menangkap beberapa ikan,” kata Lynx sambil membawa dua ekor ikan kecil yang cukup untuk mereka makan.

Leena tersenyum. “Akhirnya kita bisa makan sesuatu yang segar dan enak.”

Saat membersihkannya, Leena melihat ada sesuatu yang aneh pada ikan tersebut. "Lynx, kenapa bekas tusukan ikan ini berwarna hitam?"

Lynx yang melihat bekas tusukan ikan itu kemudian kaget dan menyadari kesalahannya. "Maafkan aku Leena, hampir saja aku mencelakakan kita semua," kata Lynx dengan panik.

"Ada apa Lynx?" Tanya Leena dengan heran.

Sambil tertawa kecil dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Lynx berkata bahwa dia ceroboh menggunakan tongkat yang mengandung racun, dia melupakan hal sepenting itu.

Setelah menyadari kesalahan, Lynx mulai menangkap lagi ikan dengan menggunakan tongkat lain yang dibuatnya. Setelah berhasil menangkap ikan, Lynx menyerahkan ke Leena untuk mengolahnya.

Mereka membuat api kecil, memanggang ikan dengan bumbu sederhana dari ramuan yang mereka simpan. Aroma ikan panggang memenuhi udara, mengalihkan mereka sejenak dari rasa lelah dan bahaya yang mengintai.

Saat malam tiba, suara gemuruh air terjun memberikan suasana yang menenangkan. Leena duduk bersandar pada sebuah batu, menatap api yang mulai redup.

“Lynx,” katanya pelan, “Aku bersyukur kau selalu ada untuk menyelamatkanku. Aku tahu perjalanan ini berat, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku harus melewatinya sendirian.”

Lynx menatapnya, tersenyum tipis. “Aku juga bersyukur kau ada di sini. Kau memberiku alasan untuk terus maju. Kita tim, Leena. Kita saling mendukung, apapun yang terjadi.”

Leena mengangguk, senyum kecil menghiasi wajahnya. “Terima kasih, Lynx.”

Malam itu, mereka tidur dengan lebih percaya diri, ditemani suara gemuruh air terjun yang menenangkan. Lynx memastikan beberapa ikan yang belum dimasak disimpan untuk bekal perjalanan mereka esok hari.

Pagi datang dengan sinar matahari yang hangat. Mereka meninggalkan area sungai dan air terjun dengan semangat baru, siap menghadapi tantangan berikutnya dengan keyakinan yang lebih kuat. Apapun yang menunggu mereka di depan, mereka tahu bahwa bersama-sama, mereka memiliki peluang untuk bertahan.


BAB 46 : Gua Di Barat Pulau
Beberapa hari telah berlalu sejak Lynx dan Leena memulai perjalanan mereka dengan persiapan baru. Mereka berhasil melewati hutan lebat, bertahan dari serangan ular berbisa, melewati kawanan babi hutan, dan menghindari tanaman beracun yang menjalar di sekitar tanah berlumpur. Mereka juga bertemu dengan sekumpulan makhluk aneh dan berhasil melarikan diri. Leena juga sudah hampir selesai masa menstruasinya, Ia mulai merasa lebih percaya diri setelah berhasil mengatasi rasa malunya, sementara Lynx tetap menjaga sikap waspadanya, terutama setelah pengalaman buruk dengan kawanan monyet besar.

Namun, pada suatu sore yang mendung, ketika mereka menyusuri jalan sempit di antara tebing dan jurang curam, suasana berubah menjadi mencekam.

Lynx, yang berjalan di depan, berhenti tiba-tiba. Matanya menyipit, menatap ke dalam kegelapan hutan di sebelah kiri. Suara langkah berat yang menyeret terdengar samar di kejauhan.

"Leena, berhenti," bisik Lynx sambil mengangkat tangan.

Leena, yang berada beberapa langkah di belakangnya, menggenggam tongkat beracunnya lebih erat. "Apa itu lagi?" tanyanya, meskipun ia tahu jawabannya.

Dari bayangan pepohonan, sosok mengerikan perlahan muncul. Itu adalah makhluk mutasi sama seperti yang pernah mereka hadapi sebelumnya. Tubuhnya besar dan tidak proporsional, dengan lengan depan yang besar seperti kaki gorila, kulit hitam pekat terdapat bentuk seperti arang yang retak, dan tulang yang terlihat mencuat dari berbagai sudut tubuhnya memberi kesan monster dari mimpi buruk. Namun, kali ini, makhluk itu tampak lebih besar, lebih kuat, dan lebih ganas.

Makhluk itu mengeluarkan suara geraman rendah, lalu menyeret tubuhnya ke arah mereka dengan kecepatan yang tidak wajar.

"Lari, Leena!" seru Lynx, mengangkat tombaknya.

"Tidak, aku akan membantumu!" jawab Leena tegas, tetapi Lynx tidak memberi waktu untuk perdebatan.

Makhluk itu menyerang Lynx dengan loncatan mendadak. Lynx mengayunkan tongkatnya, menusuk tepat di bahu makhluk itu, tetapi tongkat itu tidak cukup untuk menghentikannya. Makhluk itu meraung, mencabut tongkat yang tertancap dengan cakar besar, dan melemparkannya ke tanah.

"Lynx!" Leena berteriak, mencoba mencari celah untuk membantu. Ia mengangkat tongkat beracunnya dan melontarkan serangan ke sisi makhluk itu, tetapi racun di ujung tongkat hanya membuat makhluk itu mundur sejenak sebelum kembali menyerang. Dada Lynx berdarah terkena cakarannya.

Lynx segera mengambil cakar hewan yang sebelumnya dia ambil dari binatang buas yang dibunuhnya. Dia mengambil cakar itu dari ikat pinggangnya dan menebaskannya ke arah makhluk itu, dan berhasil melukai salah satu lengannya. Namun, makhluk itu merespons dengan pukulan keras yang menghantam Lynx di dada, membuatnya terlempar ke tanah dengan keras.

"Lynx!" Leena berlari ke arahnya, tetapi makhluk itu menghalangi jalannya.

Leena tahu ia tidak bisa mengalahkan makhluk itu sendirian. Ia melihat Lynx yang tergeletak dengan napas terengah-engah, darah merembes dari luka di dadanya. Dengan nekat, Leena memasang panah dan menembakkannya ke arah makhluk itu. Panah itu tidak menembus, tetapi cukup untuk mengalihkan perhatian.

"Ayo, kejar aku kalau kau bisa!" teriak Leena, mencoba memancing makhluk itu menjauh dari Lynx sambil membawa tongkatnya.

Makhluk itu menggeram, matanya yang merah menyala menatap Leena dengan ganas. Ia mulai bergerak ke arah Leena, meninggalkan Lynx yang terbaring lemah.

Dengan napas tersengal-sengal, Leena menerobos semak belukar yang tajam, kulitnya tergores ranting. Ia mendengar derap berat makhluk itu semakin dekat. "Aku harus menjauhkan dia dari Lynx," pikirnya, menggenggam tongkat erat-erat meski tangannya gemetar.

Namun, makhluk itu jauh lebih cepat daripada yang ia duga. Dalam beberapa saat, Leena bisa merasakan langkah beratnya semakin dekat.

Leena berhenti mendadak di area terbuka, di mana ia melihat tebing curam di depannya. Tidak ada tempat untuk lari lagi. Ia berbalik, menggenggam tongkatnya dengan erat, bersiap untuk menghadapi makhluk itu.

"Kalau ini akhirnya, setidaknya aku akan melawan!" katanya pada dirinya sendiri.

Makhluk itu muncul dari balik semak-semak, tubuhnya yang besar bergerak dengan gerakan melompat. Leena mengarahkan tongkatnya, menusuk tepat ke arah dada makhluk itu. Racun di ujung tongkat mulai bereaksi, tetapi makhluk itu masih terlalu kuat untuk jatuh.

Makhluk itu mencakar tongkat itu hingga patah, lalu menyerang Leena dengan cakar besarnya. Leena berhasil menghindar dengan lompatan ke samping, tetapi kakinya terpeleset di tepi tebing.

"Ah!" Leena berteriak, hampir jatuh, tetapi ia berhasil memegang akar pohon yang menjulur dari tanah.

Makhluk itu mendekat, menggeram ganas, bersiap untuk menyerang lagi. Namun, sebelum makhluk itu sempat melompat, sebuah batu besar menghantam bagian belakang kepalanya.

"Lynx!" Leena melihat Lynx berdiri dengan susah payah, tubuhnya berlumuran darah, tetapi ia tetap menggenggam tongkat pendek yang ia temukan di dekatnya.

"Jangan sentuh dia!" Lynx berteriak sambil melontarkan serangan lagi. tongkatnya mengenai salah satu mata makhluk itu, membuatnya meraung kesakitan.

Leena menggunakan kesempatan itu untuk menarik dirinya kembali ke tanah yang lebih aman. Dengan cepat, ia mengambil batu besar dan melemparkannya ke kepala makhluk itu, tepat di luka yang dibuat Lynx.

Makhluk itu goyah, terhuyung-huyung mendekati tebing, sebelum akhirnya kehilangan keseimbangan dan jatuh ke dalam jurang. Raungannya memudar saat tubuhnya menghilang ke dalam kegelapan.

Leena berlari ke arah Lynx, yang hampir pingsan karena kehabisan darah. Ia memegang bahu Lynx, membantu menahannya agar tidak jatuh.

"Kau terluka parah!" seru Leena dengan panik.

Lynx tersenyum lemah. "Kita menang, kan?"

Leena menggelengkan kepala sambil mengeluarkan ramuan obat dari tas kecilnya. Ia membersihkan luka di dada Lynx dengan air dari bambu, kemudian menaburkan bubuk obat herbal ke atasnya.

"Aku tidak peduli soal menang atau kalah. Yang penting kau selamat!" kata Leena sambil membalut luka itu dengan kain bersih.

Lynx tertawa kecil meskipun wajahnya pucat. "Aku tahu kau bisa melindungi dirimu sendiri, tapi kau tidak perlu mengorbankan dirimu demi aku."

Leena menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kita adalah tim, Lynx. Aku tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi."

Leena membantu Lynx kembali ke tempat aman yang lebih jauh dari tebing. Mereka menemukan gua kecil yang cukup tersembunyi, di mana mereka bisa beristirahat untuk memulihkan diri.

Selama malam itu, Leena berjaga sambil menjaga api tetap menyala. Lynx tertidur dengan napas yang perlahan membaik setelah dirawat dengan hati-hati.

Leena memandang keluar ke hutan yang gelap, pikirannya melayang. Mereka telah menghadapi banyak hal, tetapi ia tahu bahwa perjalanan mereka masih jauh dari selesai.

"Terima kasih, Lynx," bisiknya pelan. "Untuk selalu melindungiku. Sekarang, giliranku melindungimu."

Dengan pikiran itu, ia mempersiapkan diri untuk hari-hari sulit yang menunggu mereka.

Leena duduk di lantai gua, bersandar di dekat Lynx yang masih terbaring dengan napas berat. Wajah Lynx pucat, meski ia tampak tenang dalam tidurnya. Leena menggigit bibirnya, menatap api kecil yang mulai padam. Hanya nyala kecil itu yang melindungi mereka dari kegelapan yang pekat.

Dia menatap ke arah tumpukan kayu kering yang mereka kumpulkan sebelum masuk ke gua. Lynx biasanya yang menyalakan api, dan ia melakukannya dengan mudah. Namun, sekarang Lynx tidak bisa bangun, dan Leena tahu ia harus melakukan sesuatu sendiri.

“Baiklah, aku harus mencoba,” gumam Leena pada dirinya sendiri. Ia mengambil dua batu api yang biasanya digunakan Lynx dan memukul-mukulkannya seperti yang sering dilihatnya. Namun, tak satupun percikan yang berhasil menyulut api.

Leena mendesah frustasi. Tangannya mulai sakit karena memukul batu-batu itu, dan udara dingin dalam gua membuat tubuhnya menggigil. Ia berhenti sejenak, memandang Lynx yang terbaring di sampingnya.

“Kalau kau di sini, ini sudah selesai sejak tadi,” bisiknya pelan.

Leena mencoba lagi, kali ini lebih hati-hati. Ia mengatur tumpukan kayu kering dan dedaunan dengan lebih rapi, seperti yang dilakukan Lynx sebelumnya. Dengan penuh tekad, ia memukul batu api lebih keras, hingga akhirnya percikan kecil berhasil menyulut daun kering.

“Oh! Itu dia!” seru Leena dengan suara pelan namun penuh semangat. Ia segera meniup lembut percikan itu, memperbesar nyala api dengan sabar. Api perlahan tumbuh, memberikan kehangatan yang sangat dibutuhkan di tengah dinginnya malam.

Setelah beberapa saat, api kembali menyala terang, menyinari gua yang gelap. Leena tersenyum tipis, merasa bangga meski tangannya terasa pegal dan lecet.

Ia menatap Lynx dengan tatapan penuh haru. Selama ini, ia terlalu bergantung pada Lynx untuk segalanya, dari perlindungan hingga hal-hal kecil seperti menyalakan api. Tapi sekarang, ia menyadari bahwa ia juga harus menjadi lebih mandiri.

“Aku bisa melakukannya, Lynx,” katanya lembut, meski Lynx masih tertidur.

Setelah memastikan api tetap menyala, Leena duduk di samping Lynx dan memeriksa lukanya.

“Bertahanlah,” bisik Leena, suaranya bergetar. Ia menahan air matanya, takut Lynx tidak akan pulih.

Namun, saat malam semakin larut, Lynx mulai menggeliat pelan. Matanya terbuka sedikit, dan ia menatap Leena dengan senyum lemah.

“Kau menyalakan api?” tanyanya dengan suara serak.

Leena tersenyum tipis, merasa sedikit lega melihat Lynx sadar. “Ya, aku belajar dari melihatmu. Tapi… itu sangat sulit.”

Lynx tertawa kecil, meski suaranya lemah. “Kau melakukannya dengan baik, Leena. Terima kasih.”

Leena mengangguk, lalu membantu Lynx minum air dari bambu. Setelah itu, Lynx kembali terlelap, dan Leena menjaga api tetap menyala sepanjang malam.

Pagi hari tiba dengan suasana yang lebih tenang. Lynx mulai pulih, meski gerakannya masih terbatas. Ia duduk di dekat api, memakan sedikit buah yang dibawa Leena, sambil memperhatikan dinding gua dengan seksama.

“Leena,” katanya tiba-tiba.

Leena yang sedang memeriksa bawaan mereka menoleh. “Ada apa?”

“Lihat ini.” Lynx menunjuk ke dinding gua. Ada bekas goresan yang tampak seperti ukiran buatan manusia. Beberapa gambar dan simbol terlihat samar di antara permukaan batu yang kasar.

Leena mendekat, memperhatikan dengan cermat. “Ini… apa ini,” gumamnya. "Aku tidak memperhatikan sebelumnya."

Lynx mengangguk. “Ini sebuah petunjuk. Akhirnya kita menemukan sesuatu yang menggembirakan. Aku pikir, Sherly dan Chiko pasti pernah ada ditempat ini sebelumnya dan ini jejak yang mereka tinggalkan.”

Leena yang mendengarnya bersemangat, akhirnya mereka sampai ditempat yang mereka tuju. Leena mengedarkan pandangan ke sekitar gua. Memang, gua ini tidak seperti gua biasa yang mereka temui sebelumnya. Dindingnya dipenuhi tanda-tanda aktivitas manusia. ada bekas ukiran, lubang kecil seperti rak, dan sisa-sisa arang yang mungkin berasal dari api unggun lama.

“Kita harus menjelajahinya,” kata Lynx dengan semangat baru.

“Tunggu dulu,” kata Leena, menahan bahunya. “Kau baru saja terluka. Kita tidak tahu apa yang ada di dalam sana. Kau yakin ini ide yang bagus?”

Lynx tersenyum tipis. “Kalau gua ini adalah gua yang kita cari, kita tidak bisa menundanya terlalu lama. Tapi kita akan melakukannya dengan hati-hati.”

Leena mengangguk, meski hatinya masih dipenuhi kekhawatiran.

Lynx berusaha bangun. Dibantu Leena, mereka membuat obor untuk menerangi jalan. Setelah memasuki gua lebih dalam, mereka menyadari gua ini lebih besar dari yang mereka perkirakan sebelumnya, saat menemukan jalan percabangan, Lynx berkata, "Leena, sepertinya pintu masuk gua kita tadi bukanlah bentuk pintu masuk gua aslinya. Ternyata gua ini sangat luas, kita harus kembali untuk lebih mempersiapkan diri." Katanya dengan nada khawatir.

Lynx dan Leena memutuskan untuk tidak gegabah menjelajahi gua sebelum Lynx benar-benar pulih, mereka kembali ke tempat semula. Leena dengan sabar merawat luka Lynx, memastikan setiap hari lukanya dibersihkan dan diberikan obat herbal yang mereka bawa untuk mencegah infeksi.

Lynx mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan beberapa hari kemudian. Meskipun masih terasa sakit saat bergerak, ia mampu berdiri dan berjalan perlahan. Namun, mereka sepakat untuk tetap berhati-hati.

“Kita harus mencari stok makanan lebih banyak,” kata Lynx pada suatu pagi. Ia menatap Leena dengan serius. “Persediaan kita hampir habis. Dan jika kita benar-benar akan menjelajahi gua ini, kita butuh energi dan bekal untuk ke dalam sana. ”

Leena mengangguk setuju. “Kamu benar, kita tidak tahu apakah ada makanan di dalam sana. Kita bisa berburu di sekitar sini. Aku sudah melihat beberapa jejak binatang di dekat mulut gua.”

Mereka meninggalkan gua di pagi hari, membawa tongkat dan tas anyaman untuk menyimpan hasil buruan. Matahari yang cerah membantu mereka melihat jejak binatang di tanah yang lembab.

“Lihat ini,” kata Leena sambil menunjuk jejak kecil di tanah. “Mungkin seekor rusa kecil?”

Lynx memeriksa jejak itu dengan cermat. “Ya, ini rusa. Mungkin ada kawanan di dekat sini. Kita harus bergerak pelan.”

Mereka mengikuti jejak itu dengan hati-hati, menyusuri jalur yang membawa mereka lebih dalam ke hutan. Setelah beberapa saat, mereka melihat seekor rusa kecil sedang memakan daun dari pohon rendah.

Lynx memberi isyarat pada Leena untuk diam, lalu mengangkat tongkatnya perlahan. Ia melemparkannya dengan presisi, dan tongkat itu mengenai rusa tepat di sisi tubuhnya. Rusa itu terjatuh, meronta-ronta sejenak sebelum akhirnya terdiam.

“Kena,” kata Lynx sambil berjalan mendekati rusa itu.

Leena mengikuti di belakangnya, membawa tas anyaman. “Ini cukup untuk beberapa hari. Kita bisa mengawetkan dagingnya di dalam gua.”

Mereka mulai memotong rusa itu dengan hati-hati, memisahkan dagingnya untuk dibawa kembali ke gua. Namun, saat Lynx sedang membersihkan tongkatnya, ia melihat sesuatu di tanah tak jauh dari tempat mereka berburu.

“Leena, lihat ini,” panggil Lynx sambil menunjuk ke tanah.

Leena mendekat dan melihat jejak besar yang tidak biasa. Itu berbentuk oval, dengan lekukan yang dalam di bagian tengahnya, seperti bekas cakar raksasa. Jejak itu jauh lebih besar dari jejak rusa atau binatang lain yang biasa mereka temui.

“Apa ini?” tanya Leena dengan suara bergetar.

Lynx mengerutkan kening. “Aku tidak tahu. Ini bukan jejak binatang biasa."

Mereka mengikuti jejak itu beberapa langkah, melihat bagaimana jejak itu bergerak menjauh dari hutan menuju arah yang berlawanan dengan gua mereka.

“Sepertinya makhluk ini besar dan berat, dan… lihat, bentuknya sangat mirip dengan bentuk kaki monster yang menyerang kita.” kata Lynx sambil memeriksa lekukan di tanah. “Jika benar makhluk itu atau sejenisnya, ini sangat berbahaya untuk kita.”

Leena menelan ludah, merasakan ketegangan meningkat. “Mungkinkah makhluk yang menyerang kita belum mati dan berhasil keluar dari jurang? Kita harus kembali ke gua. Kalau makhluk itu masih di sekitar sini, kita dalam bahaya.”

Mereka segera kembali ke gua dengan daging buruan yang sudah dipotong. Leena merasa gelisah sepanjang perjalanan, matanya terus mengawasi hutan di sekitarnya. Lynx, meskipun tampak tenang, juga menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran.

“Kita tidak bisa mengabaikan jejak itu,” kata Leena saat mereka sampai di gua.

Lynx mengangguk. “Benar. Tapi kita juga tidak bisa melawan sesuatu yang bahkan belum kita lihat. Untuk saat ini, kita fokus bertahan hidup. Kalau makhluk itu mendekat, kita harus siap.”

Mereka mulai mengawetkan daging rusa dengan cara menggantungnya di dekat api yang mereka nyalakan. Lynx membuat jebakan sederhana di mulut gua dengan menggunakan tali dari serat pohon, sementara Leena mengasah tongkat dan membantu Lynx menyiapkan lebih banyak ramuan racun untuk berjaga-jaga.

Malam itu, suasana gua terasa lebih mencekam dari biasanya. Suara hutan di luar terdengar lebih sunyi, seolah-olah seluruh binatang telah pergi dari area itu. Leena duduk di dekat api, menggenggam tongkatnya dengan erat.

“Menurutmu apa makhluk itu?” tanya Leena pelan.

Lynx menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu. Tapi aku yakin itu bukan makhluk biasa. Kalau itu binatang mutasi seperti yang menyerang kita, harus sangat berhati-hati.”

Leena mengangguk, meskipun pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran. Mereka memutuskan untuk bergantian berjaga sepanjang malam, memastikan bahwa tidak ada yang mendekati gua mereka.

Keesokan paginya, Lynx dan Leena bersiap-siap untuk menjelajahi gua tersebut. Mereka sudah memutuskan harus segera mengetahui rahasia apa yang ada sebelum makhluk itu menemukan mereka.

Mereka menghabiskan beberapa jam berikutnya untuk bersiap-siap. Lynx membuat obor dari batang kayu dan kain yang mereka rendam dalam lemak hewan sisa berburu. Sementara itu, Leena memastikan barang-barang mereka dari air, makanan dan ramuan-ramuan sudah siap untuk dibawa.

Saat semuanya siap, mereka berdiri di mulut gua yang gelap, obor menyala di tangan Lynx.

“Apapun yang ada di dalam sana, kita akan hadapi bersama,” kata Lynx, menatap Leena dengan tatapan penuh keyakinan.

Leena mengangguk, menggenggam tongkat beracunnya erat-erat. “Kita akan hadapi bersama.”

Dengan langkah hati-hati, mereka mulai masuk lagi ke dalam gua, menyusuri kegelapan yang hanya diterangi oleh cahaya obor. Dinding gua terlihat semakin lebar dan terlihat misterius, dan suara tetesan air terdengar di kejauhan, menciptakan suasana yang semakin mencekam.

Mereka tidak tahu apa yang menunggu mereka di dalam, tetapi satu hal pasti: perjalanan mereka baru saja memasuki babak baru yang lebih berbahaya.